[3][headline][slider-top-big][Head Line]
You are here: Home / , , , , Perahu dan Cadik Nusantara

Perahu dan Cadik Nusantara

| 4 Comments
Naik Ketek di Sungai Batanghari Jambi

Pada suatu sore di sungai Batanghari Jambi, naik Ketek dan berkeliling sungai rupanya sudah menjadi ajang rekreasi bagi wisatawan kayak saya pada saat itu. Status saya bersama kawan lain saat itu memang sebagai pelancong kota, tapi tidak pernah mengira kalo akhirnya harus dibawa keliling sungai naik Ketek, perahu kayu dengan mesin diesel buatan cina.




Indonesia memang memiliki tingkat keanekaragaman budaya yang cukup berlimpah, jumlah suku dan bahasa daerah, juga jenis dan bentuk perahu atau cadik yang cukup beragam dari masing-masing daerah. Yang terkenal di Nusantara bahkan dikenal dunia adalah Kapal Pinisi nya orang Bugis - Makasar. Pinisi adalah kapal kayu lokal yang difungsikan membelah lautan Indonesia untuk misi perdagangan dan penangkap ikan.

Bersandar di dermaga Lanting depan Rumah

Jika dilaut ada Pinisi, di sungai Indonesia lebih banyak lagi merek perahu/cadik bertebaran. Ketek di Sungai Batanghari Jambi, Kelotok di Sungai Kahayan mulai dari Palangkaraya hingga Banjarmasin, Ketinting di Sungai Mahakam Samarinda, Jonson di Papua dan masih banyak lagi yang belum saya tahu. Soale cuman yang bisa disebut disini saja yang pernah langsung saya nikmatin. Belum lagi sejumlah kapal-kapal penangkap ikan.

Seorang Taken sedang membantu mengarahkan laju Perahu

Rata-rata dari Perahu tersebut diatas menggunakan mesin diesel buatan china, yang terkenal adalah merek Dong Feng. Di Papua mungkin lebih ngetop dengan Merek Johnson sehingga juga menjadi nama perahunya. Seperti warga Malang dulu menyebut motor bebek dengan Honda, "kamu kesini naik Honda yah?", "enggak pak, saya kesini pake Honda Yamaha" (maksudnya adalah motor bebek merek Yamaha).

Pak Sandi sebagai Taken sedang istirahat di ujung perahu,

Setiap perahu hanya dibutuhkan satu orang sopir, yang bertugas mengendalikan laju pada tujuan yang hendak dihampirinya. Jika ada lebih dari satu pendayung pada perahu, fungsinya adalah sebagai menambah tenaga dorong. Tapi khusus pada saat perahu harus menerjang riam dangkal, perlu ditambahkan satu orang tenaga lagi yang berdiri di ujung perahu lengkap dengan galah panjangnya, peran seorang “Taken” dari hulu sungai Kahayan ini adalah mendorongkan galah sekuat mungkin untuk mendorong pergerakan perahu di riam dangkal. Dengan dorongan kuat hingga ujung perahu terangkat dari permukaan, memudahkan untuk terhindar dari jebakan batu dan dasar sungai.

Rotan satu ton, dimuat dari hulu ke hilir

Pengalaman pertama naik perahu bermesin diesel sangat mengesankan, lebih-lebih buat kedua telinga saya. Perjalanan saat itu ditempuh tidak kurang dari lima jam, dan begitu turun dari Kelotok suasana terasa hening dan sepi, tidak ada lagi suara bising memekakkan telinga, sampai disadarkan dengan sapaan dari warga yang tidak saya dengar kecuali lambaian tangannya. Rupanya telingaku sudah buntu karena gencaran gemuruh mesin diesel perahu.

Hampir dapat dipastikan, semua baling-baling penggerak laju perahu diposisikan dibagian belakang, sedangkan untuk setir sebagai alat kemudi bisa diletakkan di bagian belakang atau dengan modifikasi di letakkan di depan seperti halnya letak setir mobil, lengkap dengan setir asli mobil. Jenis perahu dengan sebutan Perahu Motor bahkan menggunakan mesin mobil sungguhan sebagai penggerak kincirnya, Brrmm Brrmm Brrmm persis seperti sopir Taxi sedang mencari penumpang di jalanan.

Setir Bunder Muter Munyer

Perlu anda ketahui bahwa perahu tidak ada pedal rem dan kopling mundur, beberapa diantaranya sudah menggunakan klakson sebagai accessories menarik, dimainkan untuk menyapa atau mengingatkan penumpang untuk segera cepat naik, karena perahu sudah hendak melaju. Karena tidak menggunakan rem, ada sebuah kesepakatan tidak tertulis khusus untuk perahu yang melaju menuruni arus, mendapat prioritas untuk meluncur lebih dulu jika berpapasan dengan perahu lain yang akan menerjang jeram (naik).

Mengantar Kakek, Nenek, Bapak Ibu dan Kendaraan Motor Menyebrang Sungai

Perahu Jukung, disebut sebagai perahu tanpa mesin atau menggunakan tenaga dayung berbahan bakar sepiring nasi empat sehat lima sempurna. Dipergunakan untuk transportasi jarak dekat antar desa, saat ini sudah jarang dipergunakan untuk perjalanan jauh, karena sudah ada alternatif mesin kecil menggunakan bahan bakar minyak tanah, sebutan umum untuk perahu jenis ini adalah Cess.

Melaju seekor Kelotok Bermesin Dongpeng buatan cina

uconkie: naik perahuan yuk!!