[3][headline][slider-top-big][Head Line]
You are here: Home / , , , , , , Partisipasi dan Teknologinya

Partisipasi dan Teknologinya

| 4 Comments

Pada suatu hari di sebuah undangan pelatihan dengan bau-bauan partisipasi, saya mendapat sebuah pertanyaan yang cukup unik dan tidak biasa, "Bagaimana cara menghabiskan gajah?", waduh pak saya tidak pernah makan gajah, dengan sendok dan garpu, pake kecap dan kerupuk lebih enak, dimakan pelan-pelan sampe habis, dikunyah pake mulut, disembelih lalu dibuat dendeng dan dimakan sampe habis dan berbagai jawaban aneh dan lucu lainnya. Diantara sekian banyak jawaban yang ada, hampir dari kita semua tertuju untuk bersepakat pada sebuah jawaban "Kita makan bareng-bareng, lama-lama akan habis juga". Betul tidak??

Jika Gajah adalah sebagai simbol tentang cita-cita, visi, atau mimpi kita bersama, tentunya cara untuk mencapainya seharusnya juga kudu bareng-bareng, tidak sendiri-sendiri tetapi melibatkan berbagai komponen, berbagai pihak (stakeholder) dan banyak orang. Melibatkan lebih dari satu orang ini umumnya dikenal sebagai Partisipasi.

Bahasa dasar untuk Partisipasi adalah keikutsertaan atau andil dari sebuah status terhadap peran dan tanggungjawab masyarakat pada sebuah "gagasan". Pada teori tentang Tipologi Partisipasi [pdf], partisipasi yang telah terjadi di masyarakat dibaginya menjadi tujuh tingkat. Dan yang menjadi level tertinggi adalah Self Mobilisation (Mandiri), dengan ciri utamanya adalah masyarakat dapat mengambil inisiatif secara bebas tanpa tekanan, dan memegang kendali atas pemanfaatan sumberdaya yang ada.

Analisa ORID

Dalam benak saya, pernah mempertanyakan tentang "Apakah tingkat partisipasi kita sudah mulai kurang yah?, sehingga perlu dikembangkan Teknologinya? Partisipasi mulai hilang atau permasalahan sudah beranjak pelik, sudah mulai bermunculan komponen baru yang sebelumnya tidak tersedia?, atau bisa juga ada pihak lain yang sengaja mencabut dan menghilangkannya?. Silahkan di Analisa sendiri yah tentang ini.

Dan jika saat ini anda sudah mulai memikirkannya, saya sarankan untuk tidak sendirian dan segeralah mengajak rekan anda lain untuk terlibat. Resiko paling jelek jika bisa gila karena memikirkan ini, anda sudah tidak sendirian lagi heheheehe. Dan saya sarankan lagi anda bisa menggunakan salah metode ORID, singkatan dari urutan langkah mulai dari Objectif-Reflektif-Interpretatif dan Diskusi [pdf].

Ilustrasi: Suatu pagi di kantor pemerintah, salah satu pegawai mulai bercerita "Abdul Rahman Wahid, sejak sore kemaren sudah bisa digendong untuk masuk kamarnya sendiri". Spontan beberapa mulut mulai berkomentar, "kasian yah Gus Dur rupanya sakitnya mulai parah", lainnya nyambung "lha usianya kan sudah mulai lanjut", ditimpali satunya lagi "Kapan kita akan menjenguk untuk mendoakan biar segera sehat".

Si ibu pemberi berita menutup perbincangan mereka, "Lho, Abdul Rahman Wahid ini nama bayi Ibu Nenci yang dua hari lalu lahir di R.S. Harapan Kita dan sore kemaren sudah boleh pulang kerumahnya sendiri.
Nah, jika anda mulai biasa menggunakan model ORID untuk merespon setiap permasalahan, contoh tersebut diatas tidak akan pernah terjadi lagi. Energi yang terbuang "percum tak bergun" bisa diantisipasi dari awal proses merespon berita atau gagasan baru.

Bagi saya metode ini seperti mampu menyingkat dengan cara-cara yang cukup sederhana sebagai "Metode Penelitian", secara berurutan diawali dari Hipotesa atau pendugaan masalah, menetapkan Analisa berikut membahasnya sebelum menyimpulkannya pada ujung akhirnya. Intinya adalah tanpa harus melalui jenjang pendidikan Strata Satu (S1), ORID sebagai alat analisa dapat membantu memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari, bahkan untuk anak-anak kita. Mottonya adalah "Mengambil yang baik dari yang sudah ada, membuang yang tidak penting dan memunculkan inovasi baru.

Kekuatan Partisipasi berikut Teknologinya

Inovasi dan gagasan baru pasti bisa dibangun bersama-sama secara Partisipatif, dan semoga beberapa Teknologi yang akan saya munculkan disini bisa membantu prosesnya. Yang penting dan perlu diingat adalah Teknologi hanyalah sebuah "alat" untuk membantu mewujudkan apa yang menjadi kehendak bersama, dan bukanlah tujuan akhirnya.

ZOPP-Zielorientierte Projektplanung- GOPP Goal Oriented Project Planning

Kenalan pertama saya dengan Teknologi Partisipasi ini adalah melalui merk yang terdaftar oleh GTZ, sebuah lembaga milik negara Jerman. Adalah ZOPP (Zielorientierte Projektplanung)- atau dikenal dengan bahasa inggris sebagai GOPP-Goal Oriented: Project Planning terjemahan bebasnya adalah "Perencanaan Kegiatan yang berbasis pada Tujuan". Kekuatan dari ZOPP adalah dapat menyampaikan banyak informasi melalui Matrik. Sehingga secara singkat kita dapat mengenali dan memahami berbagai permasalahan hingga pemecahannya hanya melalui beberapa lembar saja.

Upaya ZOPP untuk memetakan permasalahan cukup menarik, melalui metode Meta Plan yang disusun dan dirangkai untuk mengetahui saling keterkaitan masalah [pdf] satu dengan masalah lainnya, Atau satu masalah akan bisa menyebabkan munculnya masalah baru lainnya. Bisa memunculkan peta masalah itu berarti sekaligus sanggup memunculkan peta harapan, dengan langkah yang cukup mudah, membalik kalimat negatif menjadi kalimat positif, berarti mengubah permasalahan menjadi masa depan lebih baik.

ZOPP juga berkemampuan menyampaikan kebutuhan dokumentasi program lebih ringkas dan sederhana dalam bentuk bagan-bagan Matrik. Pengajuan Usulan Kegiatan hanya dengan dua lembar halaman, dapat difasilitasi oleh metode ini, sehingga lebih padat mengurangi bahasan yang tidak perlu sekedar membuat tebal halaman. Pada kesempatan terpisah dapat dilihat contoh hasil simulasi untuk Program Pengembangan Ekowisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru [pdf]

PRA - Participatory Rural Appraisal

Gagasan dasar dari PRA banyak dilatarbelakangi dari bidang Pertanian dan Petani, yang mengemukakan bahwa Orang miskin itu Kreatif dan Mampu, serta dapat dan harus melakukan banyak penelitian atas diri mereka sendiri, menganalisisnya dan serta menyusun perencanaan dan program kerja. Bantuan dari orang luar adalah hanya sebagai Penyelenggara, Katalis dan Fasilitator, karena mereka memang harus diberdayakan.

Pada tahap aplikasinya, PRA menggunakan teknik-teknik khusus dengan menggunakan bagan-bagan sederhana, grafik dan gambar-gambar yang mudah dimengerti dan dipahami oleh Masyarakat. Beberapa contoh diantaranya adalah menggunakan Peta Transek, Diagram Kelembagaan, Kalendar Musim, Perimbangan Tenaga Kerja berdasar Gender dan lain sebagainya.

Masyarakat sendiri yang akan menuangkan data-data otentik yang ada di lingkungannya, sangat disadari bahwa penduduk asli punya ingatan yang cukup kuat dengan apa yang pernah terjadi di tempatnya tumbuh. Ukuran-ukuran pasti seperti tanggal (waktu) berdasar kalender jika dibutuhkan sebagai data dapat digantikan dengan kejadian-kejadian besar lainnya yang pernah terjadi, seperti saat masyarakat aceh dan indonesia mengingat kejadian Tsunami.

Masyarakat akan menyajikan data menurut mereka sendiri, berikutnya adalah menganalisa dan memproyeksikan langkah kedepan lebih baik bersama melalui proses diskusi. Memilih prioritas, dan menentukan langkah kunci. Pada tahapan proses diskusi, akan terdapat sanggahan-sanggahan antar mereka untuk memperkuat data lebih lengkap dan valid. Tanpa sadar melalui langkah-langkah sederhana, masyarakat dikembalikan pada fungsi yang seharusnya untuk menentukan nasib mereka sendiri di masa mendatang.

TOP - Technology of Partisipation

Secara umum, metode ini tidak jauh berbeda tujuannya dengan dua contoh diatas, dengan menggunakan ORID untuk Metode Diskusi, Metode Workshop (Lokakarya) sehingga sampai pada penetapan program-program realistis yang dapat dikerjakan untuk mencapai cita-cita. Dengan panduan bagan, matrik melalui Meta Plan, kertas-kertas kecil yang dituliskan satu ide dan ditempel di dinding sehingga bisa terlihat oleh semua peserta. Dan memberikan kesempatan untuk semua bisa membahas bersama-sama.

Hasil kerja keras menyusun program dua tahun dalam bentuk tabel dan matrik[/caption]

Disini saya juga mendengar sesuatu yang baru tentang SOAR (Strengths, opportunities, aspirations, results) yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam perencanaan strategis, lebih mementingkan unsur berpikir positif, sehinggu cukup mempertimbangkan hal-hal yang bermuara potensi dan peluang ketimbang masalah dan ancaman seperti pada SWOT (strengths, weaknesses,opportunities, threats). Mungkin juga karena Era SWOT di inspirasi oleh para Tentara yang sedang berperang sehingga harus mempertimbangkan unsur lawan dan ancaman.

Partisipasi juga Budaya Indonesia

Benarkah Teknologi Partisipasi memang hanya milik Barat, NGO dan Lembaga-lembaga donor? tidakkah partisipasi ini juga terdapat pada suku-suku dan anak desa yang tinggal di Indonesia?, berikut dengan teknologinya?. Dengan tidak bermaksud mementahkan metode yang ada diatas, tapi bukan berarti juga meninggalkan atau bahkan meniadakan mutiara kampung yang sudah berakar sejak dulu.

Desain rumah Jawa dengan teras dan amben di depan rumah, demikian juga rumah-rumah Betawi, berikut dengan Pendopo sebagai pusat Musyawarah Plenonya. Acara makan pinang Suku Dayak juga bagian dari proses Partipasi Masyarakat dengan model Master Mind nya. Yang perlu dikembangkan adalah proses dokumentasinya (pencatatan), sehingga terbentuk alur dan struktur yang lebih runut untuk mencapai kesimpulan dan rencana tindak lanjut. Saya menyadari bahwa masyarakat kita pada umumnya memang lemah pada proses ini.

Referensi Link

Dokumen Participatory Training Approach

uconkie: mempelajari sekian banyak model dan teknologi partisipasi ini agar saya bisa lebih bertindak lebih partisipatif untuk diri saya sendiri, memunculkan spirit partisipasi pada keluarga saya (anak dan istri), dan di lingkungan sosial.