[3][headline][slider-top-big][Head Line]

Memasang Jerat

| 5 Comments
Bapak Penyangsurung dengan Bubunya
Amay Penyang Surung sedang Mempersiapkan Perangkap Ikan

Sejak pagi sehabis sarapan, Rolan dan Melky sibuk memainkan Mandaunya masing-masing, memotong gulungan tali plastik sepanjang 100 meteran menjadi puluhan bagian kecil-kecil, John pun tak kalah giatnya membantu membuat ikatan dan simpul merangkai potongan-potongan tali tersebut menjadi satu bagian utuh. Sementara aku masih dengan posisi duduk jongkok sambil memperhatikan yang sedang mereka lakukan, yang bisa aku kerjakan cuman mengepulkan asap dari sebatang 234 yang melekat di jari-jariku.

Di depan tebing Mangkuliang
Stop dulu, ada pemandangan bagus, berpose di depan Tebing Mangkuliang

Yak, kita adalah 4 sekawan yang sedang berpetualang persis seperti cerita-cerita yang dikisahkan dalam buku cerita anak itu he he he. Pagi ini memang kita akan jalan-jalan di seputaran Sungai Beruang sambil mencari temannya sesuap nasi, nafas kita memang masih dibutuhkan untuk beberapa bulan lagi kedepan disini, gak mungkin tiap hari selalu makan makanan kaleng, saya sendiri baru merasakan langsung dampak buruk karena terlalu sering mengkonsumsi makanan yang terbungkus dengan merek dan label.

Minggu pertama biasanya masih bisa menikmati, jarang-jarang juga bisa beli karena tergolong makanan mahal dan mewah, minggu berikutnya lidah mulai terasa hambar, makanan jenis apapun yang dibikin sudah tidak ada nikmatnya lagi, dan kalo udah itungan bulan, baru ngeliatnya aja sudah pengen muntah, tidak jarang juga beberapa kawan mulai timbul gatal-gatal dan alergi, sepertinya badan kita sudah mulai keracunan. Kalo udah seperti itu, seikat daun pepaya segar dan sambal lebih nikmat dibanding sepanci daging kaleng, dan yang pasti lebih sehat dan berguzi, mengandung minamin tanpa ewek-ewek sampingan.

Melintasi Sungai Beruang

Melintasi Sungai Beruang

Sungai Beruang, Hari ini kita akan bekerja keras mencari pengganti makanan sampah, sekaligus cari hiburan selingan jalan-jalan di sekitar kaki pegunungan Schwan Muller, syukur-syukur dapat ikan segar dari Sungai Beruang dan se ekor daging Rusa.

Melihat Jejak Rusa
Pemasangan Jerat dilakukan di areal Jejak yang terlihat

Memasang Jerat, umumnya biasa dilakukan pada musim kemarau, kenapa? jawabnya sudah pasti karena sungai-sungai kecil sudah pada surut, kubangan-kubangan juga sudah pada kering, yang tersisa hanyalah sungai yang cukup mendapat suplai sumber dan mata air yang bisa tetap mengalir. Kondisi ini mendorong semua binatang di hutan harus menuju titik yang sama, mereka tidak bisa lagi tersebar tetapi pada waktu yang sama akan berkumpul pada sumber-sumber air yang memadai.

Inilah titik awal kita, start penempatan jerat selalu berawal dari sumber-sumber air potensial, sambil memperhatikan dan memperhitungkan jejak-jejak kaki yang ditinggalkan ditanah basah. Masing-masing jenis binatang ternyata punya pola dan jalur perjalanan, celeng (babi hutan) punya kecenderungan melakukan perjalanan dengan jalur yang sama, pulang pergi (pp) tarip sama, tidak demikian dengan Rusa atau Kijang, mereka lebih acak, mungkin karena punya kaki yang panjang dan postur tubuh ramping sehingga lebih leluasa belok kiri dan kanan tanpa lampu riting, tentunya tidak demikian dengan badan penuh lemak dan kaki pendek macam celeng, untuk belok dia harus memutarkan seluruh anggota tubuhnya.

Bentuk Jerat untuk Rusa dan Celeng

Diusahakan tidak terlihat, ditutup dengan daun kering

Lebih dari satu macam teknik menangkap hewan dengan jerat, jika kaki rusa/celeng tertangkap jerat, maka dia tersangkut di kayu penjeratnya atau bisa juga dengan sistem pelampung, si binatang masih bisa lari kesana-kemari dengan membawa kayu gelondongan yang terikat di salah satu kakinya, seperti Buldozer yang sedang menarik beban, sayangnya tinggal menunggu waktu dan lokasi yang pas sampai akhirnya kayu gelondongan tersebut tersangkut oleh batang atau semak di hutan, di hutan kan penuh dengan halang rintang alami, lain halnya kalo dia lari narik gelondongan di jalan tol, yang bisa nangkep paling pintu gerbang pembayaran tol, namanya aja jalan bebas hambatan pak de...

Jerat di sekitar jejak

Roland dan Jerat Rusa-nya

Yang nampak di photo atas adalah baru saja disiapkan jerat untuk rusa/celeng, masih ada proses selanjutnya, adalah memberikan kamuflase diantara warna-warna tali dan jerat yang mencolok, kebetulan kali ini untuk jeratnya menggunakan tali plastik yang warnanya sangat aduhai di antara hijau dan coklat tanah, ini harus disembunyikan dengan cara menutupi dan menimbun dengan daun-daun kering dan tanah biar lebih tersamar, yang sangat sensitif dengan warna adalah rusa/kijang.

Oke, satu jerat sudah selesai dipasang, masih kurang 99 jerat lagi harus dipasang di seputar lokasi target kita. Hmmmm banyak banget yah? tidak seperti yang aku kira sebelumnya, sebelumnya memang satu-satunya referensiku tentang bertahan hidup di alam bebas adalah buku yang bertitel The Survival Handbook, dari situ untuk pemasangan jerat yang terpikir paling cuman bikin satu buah saja.

Jerat untuk Burung

Jerat untuk Burung, tapi bukan jerat burungnya Pak Sandy

Dari celeng, rusa, luwak (musang), landak, monyet hingga burung semuanya bisa ditangkap dengan jerat, tetapi jelas berbeda tekniknya, disesuaikan dengan karakter binatang yang hendak dijadikan target, beberapa diantaranya diperlukan umpan, baik umpan yang diam atau umpan yang bergerak, termasuk juga pemilihan umpan dengan warna dan bau yang mencolok dan mengundang selera, prinsip-prinsipnya tidak beda jauh dengan memasang jerat-jerat cinta juga kok...hehhehhe
Penerangan dan Penjelasan


Amay Sandy dengan burungnya....

Memelihara burung di rumah, menikmati indah bulunya atau suaranya bukanlah kebiasaan yang diturunkan kepada mereka, apalagi harus sibuk setiap hari memberi makan dan minum, kita manusia yang memiliki dia atau justru dia yang menjadikan kita sebagai buruhnya, yang setiap hari harus memperhatikan tiap kebutuhan hidupnya, celetukan ini memang pernah aku dengar saat teman saya lagi kesel banget sama binatang peliharaannya hehehehe. Lha iya pak, kan lebih enak menikmatinya langsung di alam, pada setiap pagi kan kita bisa liat mereka ikut nongkrong di depan rumah kita sambil ber cicit cuit.... kenapa harus merepotkan diri kudu nangkep dan memelihara segala....tapi seringkali memang harus ditangkep karena memenuhi pesenan orang lain, kalo yang ini memang agak rumit, yang mencicit cuit adalah kebutuhan dapur.

Jerat untuk Burung

Mereka kok jahat yah sampe menangkap binatang dengan cara-cara sadis seperti ini?, pertanyaan i
ni adalah tidak tepat untuk diungkapkan, yang jelas jika diliat dari niatnya mereka melakukan ini bukan cuman untuk kesenangan dan kepuasan, tapi lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup, jerat seperti ini sangatlah aman, aman bagi binatangnya karena tidak kesakitan, mreka mungkin mengira sedang terbelit akar di hutan, disamping itu juga aman bagi manusianya jika tidak sengaja kaki tertangkap jerat. Jangan sembarangan melangkah di sekitaran Gunung Biru di Malang, kalo tidak kenal daerah salah-salah kaki anda bisa putus karena tertangkap jerat yang bergerigi yang terbuat dari besi, persis seperti perangkap tikus cuman dalam bentuk yang lebih kuat dan kokoh.

Mejeng lagi achh
Pantang tidak mejeng

Gak terasa, ternyata kita berempat telah menghabiskan waktu sepanjang pagi hingga sore, kita tuntaskan dan segera balik, sambil sekalian mampir di sungai, sapa tau pukat kita yang dipasang tadi pagi sebelum berangkat sudah ada penghuninya, sambil sekalian membasuh badan di sungai yang sepi dan jernih.

Mandi di Sungai

Tidak lupa mandi dulu sebelum balik

Selanjutnya adalah tinggal nunggu dan cek rutin tiap hari, yang jelas tugas selanjutnya bukan untuk aku, gimana bisa ngapalin lokasinya di hutan belantara kayak gitu, di komplek perumahan aja aku bisa nyasar kok hehehhehhe. Itulah hebatnya teman-temanku itu, mereka pasti punya daya ingat atau setidaknya tau alat bantu untuk mengingat lokasi dan tempat di luasan seperti itu. Bisa masang jerat tapi gak mengingat lokasi pemasangannya sama aja seperti bikin rumah tapi tidak tau alamatnya. Mau nanya ke siapa kalo bikinnya di alas, kecuali bisa berkomunikasi dengan para wewe gombel.

Tripot, si Kijang

Tripot, si Rusa Betina

Aku panggil Tripot karena kakinya cuman ada tiga, Tripot juga yang terjebak dengan jerat kami, sudah ketangkap maunya di sembelih kok pada kasian, akhirnya jadi teman main kami mandi pagi dan sore di sungai hehehhehe begitulah mereka....

congkie: satu dua tiga sayang semuanya........